Javanica Media Logo

Ekspor UMKM Dipersulit Bea Cukai, Belum Kirim Harus Bayar 118 Juta dan Ancaman Penjara! Menteri Teten Turun Tangan

0 Komentar: 9 Dilihat

Vertikal News – Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki harus turun tangan untuk menindaklanjuti kabar adanya UMKM yang mengalami hambatan ekspor terkait kepabeanan. Dilansir ekonomibisnis Kabar hambatan ekspor oleh UMKM karena proses pemeriksaan Bea Cukai sebelumnya viral di media sosial. Teten mengaku telah bicara dengan Dirjen Bea Cukai, Askolani, ihwal isu adanya kesulitan UMKM untuk ekspor, terutama pada jenis produk briket. Dia menjelaskan, bahwa ekspor briket memiliki risiko dalam hal pengiriman.

Badan usaha yang mengajukan keluhan itu adalah CV Borneo Aquatic. Perusahaan skala UMKM itu berencana melakukan ekspor ke Eropa setelah mendapatkan orderan 1 kontainer komoditas barang kebutuhan toko hewan (pet shop). “Saya sudah komunikasi dengan Dirjen Bea Cukai, dan Dirjen Bea Cukai akan follow up kasus itu dan nanti beliau akan memberikan update ke saya,” ujar Teten saat ditemui di JCC, Selasa (28/11/2023).

Salah satu produk yang dikirim ke Eropa yakni briket. Teten menjelaskan produk briket memang memiliki risiko dari sisi pengiriman. Tak hanya itu perusahaan logistik juga memiliki persyaratan yang tinggi. Teten pun menyebut pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap UMKM.

 Termasuk produk briket karena eskpor memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Apalagi Indonesia pun memiliki bahan baku yang cukup banyak dan permintaan dunia yang cukup besar. “Kita ini kan sudah mendampingi banyak produk briket misalnya. Briket ini yang diproduksi dari arang tempurung kelapa yang di-combine dengan arang nambo,” kata Teten. Terkait kasus ini, Teten tetap optimis para UMKM tidak akan khawatir melakukan ekspor produk mereka. Karena Indonesia memiliki market dan permintaan yang besar.

banner

Kronologis kejadian

Dilansir Merdeka.com, adapun kronologi kasus tersebut yang diunggah oleh akun @thecaioflfie, CV Borneo Aquatic mendapatkan pesanan dari Eropa dengan invoice senilai US$12.973 pada Agustus 2023, yaitu produk batok kelapa dan serat kayu untuk kebutuhan pet shop. Pelaku UMKM menyatakan seluruh dokumen telah lengkap, yang mencakup packing list, invoice, phytosanitary certificate, sertifikat fumigasi. Perusahaan juga telah mendapatkan jadwal muat ke kapal pada 25 September 2023. Setelah itu, pengajuan PEB pertama UMKM itu ditolak karena terdapat kesalahan penulisan, yaitu adanya perbedaan HS code di packing list.  PEB itu kemudian direvisi dan diajukan ulang, hingga akhirnya pelaku UMKM mendapatkan nota pelayanan ekspor. Namun, pelaku UMKM itu pada 1 Oktober 2023 mendapatkan surat pemberitahuan yang menyatakan kontainernya ditahan berdasarkan NHI 23 September 2023. Kontainer yang batal naik ke kapal akhirnya dibongkar dan diperiksa. Temuan NHI, yaitu ada satu jenis barang yang di packing list berjumlah 7 buah, tapi dalam NPE ada 15 buah. “Tidak jadi dipermasalahkan, karena hanya kayu lapuk yang terpecah dalam proses bongkar muat,” tulis akun itu. Lalu, pelaku UMKM diminta membuat surat pernyataan bahwa komoditas akan digunakan sebagai dekorasi akuarium. Setelahnya, Bea Cukai kembali melakukan pengambilan sampel untuk uji laboratorium. Uji lab dilakukan pada 9 Oktober 2023 dan Bea Cukai menjanjikan layanan 5-15 hari kerja. Faktanya, jelas akun itu, hasilnya baru keluar pada 2 November 2023. Pelaku UMKM itu melakukan pembatalan PEB. Hingga 10 November 2023, pembatalan itu belum juga disetujui. Pelaku UMKM itu pun mendapatkan tagihan sebesar Rp118,56 juta dari armada pemilik kontainer. Jika tidak membayarkan tagihan tersebut, maka produk ekspor miliknya akan disita. “Posisinya serba salah, kalau lanjut harus bayar Rp118 juta, kalau mundur barang disita,” tulis akun itu.

javanica media logo

Kontradiksi Times

Jurnal Demokasi

Vertikal News

Portal Hukum

Sport

Selebritis News

Agribisnis