Javanica Media Logo

Fenomena 2 Ribu Orang Bisa Tertipu Tiket Konser Coldplay yang Ditawarkan Ghisca Debora. Kok bisa??

0 Komentar: 10 Dilihat

Vertikal News – Konser coldplay telah berlalu tetapi duka masih membawa bekas yang tak terlupakan bagai sembilu. Salah satu Penipuan yang tersukses tercatat dalam sejarah mega konser.Tiket konser Coldplay dengan tersangka Ghisca Debora masih menyisakan pertanyaan besar. Bagaimana bisa sekitar 2 ribu orang tertipu tiket konser Coldpay yang ditawarkan Ghisca? Angka tersebut sangat fantastis karena melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang tertipu oleh bocah berumur 19 tahun.

Diketahui, Gischa Debora Aritonang (19) telah ditetapkan sebagai tersangka penipuan tiket Coldplay. Dilansir dari tribun Sumsel, Polres Metro Jakarta Pusat mengungkap modus mahasiswi Ghisca Debora Aritonang bisa menipu 2 ribuan tiket konser ColdPlay. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, mengatakan Gischa telah ditetapkan sebagai tersangka sejak Jumat (17/11/2023). “Sehingga pada 17 November 2023, kami tetapkan sebagai tersangka yang GDA ini dan kami melakukan penahanan mulai hari Jumat kemarin,” ujar Susatyo dalam konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Pusat, Senin (20/11/2023). Penetapan tersangka ini dilakukan setelah Polres Metro Jakarta Pusat menerima enam laporan terkait aksi penipuan Gischa. Enam laporan tersebut masuk ke Polres Metro Jakarta Pusat dengan kerugian keenam korban mencapai Rp5,1 miliar. “Yang pertama ini adalah pelopor atas nama VS Rp 1,350 miliar itu atau 700 tiket. Yang kedua lapor AS ini miliar 1,030 miliar atau 600 tiket,” terang Susatyo, dilansir Wartakotalive.com. “Yang ketiga MF Rp 1,3 miliar atau 500 tiket, kemudian yang keempat pelapor SG itu Rp 73 juta, kemudian korban AR ini Rp 1,3 miliar atau 400 tiket dan yang terakhir lapor CL ini Rp 230 juta,” lanjutnya.

Dilansir dari Detiknews Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Polisi Susatyo Purnomo Condro juga mengatakan, terkait dengan kasus penipuan tersebut, Ghisca dikenai Pasal 378 dan Pasal 372, dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. “Pasal 378 itu 4 tahun dan/atau pasal penggelapan itu hukumannya 4 tahun,” kata Susatyo dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Senin (20/11/2023). Dalam melakukan aksi modus penipuan, Ghisca memiliki modal 39 tiket yang ia dapat melalui war tiket. Lalu Ghisca menawari tiket tersebut ke temannya untuk menjadi penjual ulang (reseller). “Adapun modusnya, setelah war tiket, yang sekitar pertengahan bulan Mei, GDA ini juga war tiket dapat sekitar 39 tiket dan sudah diserahkan,” ucap Susatyo. Susatyo mengatakan bahwa Ghisca mengaku dekat dengan promotor Coldplay untuk menipu para korban. Dia mengatakan pengakuan Ghisca itu yang membuat para korban tertarik untuk membeli tiket ke Ghisca. “Sampai dengan saat ini, keterangan bahwa yang bersangkutan memiliki kedekatan atau perantara itu adalah bohong, itu tidak benar,” ujar Susatyo. “Itu menjadi rangkaian kebohongan yang untuk meyakinkan para korban korban tersebut,” imbuhnya.

Polisi lalu menyita barang bermerek yang diduga dibeli Ghisca dari uang penipuan. Barang-barang tersebut berupa tas Hermes, sandal Hermes, dan laptop MacBook. Barang sitaan tersebut diperkirakan mencapai Rp 600 juta. “Berbagai barang-barang branded atau bermerek yang setidaknya dibeli sejak bulan Mei atau sejak GDA menerima uang-uang pemesanan tiket. Total barang bukti ini kurang lebih ada Rp600 juta,” kata Susatyo. “Sisanya hampir sekitar Rp2 miliar itu digunakan pribadi oleh tersangka. Dan saat ini kami masih melakukan pendalaman pengembangan terhadap uang atau barang hasil kejahatan yang dilakukan oleh tersangka,” tuturnya. Polisi juga akan melakukan mediasi antara pelaku dan korban penipuan tiket konser Coldplay. Korban, melalui kuasa hukumnya, Ben Imanuel S, berharap pengembalian dana setelah polisi menetapkan Ghisca Debora sebagai tersangka. “Kita menyerahkan semua kepada Polres Jakarta Pusat. Intinya kami berharap dari korban adanya pengembalian dana dan kami juga percaya bahwa pihak dari tersangka akan kooperatif,” kata Ben Imanuel S di Polres Metro Jakarta Pusat (20/11/2023).

banner

Sementara itu, Ghisca mengakui kesalahannya setelah melakukan aksi penipuan. Pengakuan itu diungkapkan Ghisca setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka. “Saya Ghisca Debora Aritonang, saya mengakui kesalahan saya,” katanya sambil tertunduk di Polres Metro Jakarta Pusat, Senin (20/11/2023). Ia juga mengaku siap menghadapi proses hukum setelah penetapan tersangka itu. “Dan saya akan mengikuti proses hukum. Dan proses ini sudah saya serahkan ke pihak kepolisian,” imbuhnya. Hingga kini diketahui polisi masih menyelidiki dugaan adanya pihak selain Ghisca dan mengumpulkan bukti-bukti lain melihat banyaknya jumlah uang yang didapat Ghisca dari penggelapan tiket tersebut. Selain itu, terkait korban yang melakukan transaksi dengan selain Ghisca masih dalam penelusuran.

Fenomena banyaknya kasus penipuan tiket konser musik Coldplay di Jakarta pada 15 November 2023 lalu menjadi contoh bahwa ada sisi lain dari antusiasme. Dikutip dari klikdokter Psikolog Iswan Saputro melihat fenomena ini bisa dipahami secara psikologis, salah satunya dari sudut pandang FOMO (Fear of Missing Out) dan dampak dari pengambilan keputusan yang dilandasi emosi. FOMO adalah kondisi psikologis dimana seseorang merasakan takut yang berlebihan karena cemas akan tertinggal dari tren. Kondisi ini dapat memicu kecemasan yang berlebihan karena takut tidak mendapatkan kesenangan, mengalami hal yang baik, atau merasakan pengalaman yang sedang tren.

FOMO juga dipicu dari media sosial yang dengan cepat memberikan informasi terkini. Cepatnya arus informasi membuat seseorang yang FOMO merasakan urgensi untuk memiliki atau mengikuti tren, salah satunya membeli tiket konser penyanyi ternama. Keputusan membeli yang didorong dari kondisi emosi yang tidak stabil menyebabkan rendahnya kontrol diri dan daya kritis. Hal ini menyebabkan seseorang yang FOMO ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat melalui berbagai cara, baik secara resmi atau ilegal. Bahkan rela mengorbankan banyak hal untuk merasakan apa yang banyak orang lain rasakan.

Daya kritis yang melemah karena rasa cemas dan takut menyebabkan rentan dalam salah mengolah informasi yang diterima dan berisiko menjadi korban penipuan. Media sosial menjadi penyebab yang kuat dari munculnya FOMO. Namun, faktanya kamu masih memiliki kendali penuh atas hidupmu saat ini. Kamu bisa melatih dan membiasakan JOMO (Joy of Missing Out) untuk mengatasi FOMO yang berisiko merugikan diri sendiri. JOMO adalah tindakan seseorang untuk tidak mengikuti tren, terutama di media sosial atau sumber hiburan lainnya. Seseorang yang JOMO cenderung merasa puas dengan hidupnya saat ini dan lebih fokus pada hal-hal yang disenangi. JOMO membuat kamu merasa bebas dan tidak dihantui rasa cemas atau takut tertinggal tren. JOMO dapat melatih kontrol emosi dan meningkatkan daya kritis dalam mengambil keputusan. Seseorang yang JOMO akan berhenti membandingkan diri dengan orang lain, lebih memperhatikan penggunaan waktu, dan berkata “tidak” untuk hal-hal yang tidak ingin kamu lakukan.

Mendapatkan kesenangan dari menonton konser bukan hal yang salah. Namun, kamu perlu menyadari darimana datangnya dorongan tersebut dan bagaimana cara untuk merealisasikannya.

javanica media logo

Kontradiksi Times

Jurnal Demokasi

Vertikal News

Portal Hukum

Sport

Selebritis News

Agribisnis