Javanica Media Logo

Ganjar Pranowo Gencar Serang Jokowi, Ganjar: RAPOR MERAH, Nilai 5 Buat Jokowi!

0 Komentar: 8 Dilihat

Jurnal Demokrasi – Calon Presiden RI Ganjar Pranowo mengatakan bahwa dirinya tidak akan serta merta melanjutkan program yang telah digagas dan dijalankan oleh Joko Widodo jika dirinya terpilih jadi Presiden di tahun 2024. Dilansir Kabar24, Alasan Ganjar akan mengoreksi program Jokowi cukup masuk akal. Sebab sebagai Presiden yang baru, jika dirinya terpilih, tentu Ganjar akan memiliki programnya sendiri. “Masa plak-ketiplak gitu? Kan ada yang keliru, hari ini kritik kepada pemerintah soal penegakan hukum yang belum baik, kan kita dengerin,” tuturnya.

Sebelumnya, Ganjar menilai rapor penegakan hukum hingga HAM era Jokowi merah. Ganjar memberi nilai 5 dari skala 10 usai putusan Mahkamah Konstitusi terkait batas usia capres-cawapres. Imbas dari statement ganjar tersebut sangat berimbas pada turunnya elektabilitas calon presiden Ganjar-Mahfud di Jawa Tengah. Dilansir kompasTV, Hal tersebut disampaikan Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam dalam dialog Sapa Indonesia Pagi KOMPAS TV, Selasa (21/11/2023).

“Terkonfirmasi terutama di basis data di Jawa Tengah, ketika Mas Ganjar melakukan serangan yang cukup signifikan terhadap pemerintahan Jokowi, justru ada pengurangan dari sisi elektabilitas terutama di segmen masyarakat Jawa Tengah yang kita tahu adalah kandang banteng. Tapi saat yang sama juga merupakan basis dari pendukung Pak Jokowi itu sendiri,” kata Umam. “Nah, titik pembeda sekaligus menjadi titik pisah antara Mas Ganjar dengan Pak Jokowi tentu akan meningkatkan elektabilitas pada sisi kelompok masyarakat menengah terdidik tetapi di saat yang sama hal itu justru diterima kurang begitu produktif oleh masyarakat dengan literasi menengah ke bawah terutama di segmen Jawa Tengah yang menjadikan kendang bagi PDI-P,” tambahnya.

Sebab dalam pemahaman masyarakat, kata Umam, Ganjar diketahui sebagai capres dari PDI-P yang selama ini juga menjadi mesin politik untuk dua periode pemerintahan Jokowi. Publik tentu mempertanyakan kemana saja Ganjar dan PDI-P selama 9 tahun belakangan sehingga baru mengeluarkan narasi menyerang saat-saat ini. “Bagaimana pun juga narasi tegas, kritis per hari ini tentu memiliki ruang yang bisa diterima. Tetapi segmen yang menerima lebih banyak berasal dari kelompok masyarakat menengah terdidik atau dari kalangan masyarakat sipil, meskipun dalam konteks ini tentu akan ada pertanyaan balik kepada Mas Ganjar termasuk PDIP,” jelas Umam.

banner

Ganjar kena batunya, elektabilitas terus merosot akibat gencar serang jokowi. Dilansir inilah.com Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis temuan terbarunya terkait elektabilitas tiga pasangan capres-cawapres, kurun tiga bulan terakhir. Hasilnya, paslon nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD merosot elektabilitasnya lantaran telalu sering mengeluarkan pernyataan yang menyerang Presiden Joko Widodo (Jokowi). Akibat serangan membabi buta ini, tidak sedikit dari pendukung Jokowi yang selama ini memilih PDIP, mengalihkan dukungannya ke kubu lain. Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan, serangan kubu Ganjar Pranowo kepada Jokowi justru menyebabkan 7,5 persen. “Di Oktober waktu itu di angka 39,4 persen, di November 2023 turun diangka 31,9 persen,” ujar Adjie dalam paparan rilis survei LSI Denny JA bertajuk ‘90 Hari Menuju Pilpres: Yang Meroket dan Yang Terjungkal’, Jakarta, Senin (20/11/2023).

Selain itu, sambung dia, pemenangan Ganjar Pranowo di wilayah kekuasaannya, Jawa Tengah, semakin tergerus dengan kehadiran Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

Adjie menyebut bahwa dari awalnya hanya kisaran 10,7 persen, pemilih Prabowo-Gibran mengalami kenaikan yang cukup signifikan menjadi 24,6 persen.  “Sementara Ganjar-Mahfud di Oktober 2023 di angka 70,1 justru mengalami penurunan di angka 61,8 persen,” tuturnya. Tidak hanya blunder, penurunan terhadap elektabilitas Ganjar juga didukung oleh faktor kinerjanya sebagai mantan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) yang dinilai gagal menangani kemiskinan. Tercatat, Jateng merupakan provinsi termiskin kedua se-Indonesia selama 10 tahun kepemimpinan politikus berambut putih itu.

Terakhir, yang dianggap sebagai faktor pendukung penurunan elektabilitas Ganjar-Mahfud adalah sebutan petugas partai yang dilayangkan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) kepada dirinya. Menurut Adjie, publik masih menilai bahwa Ganjar hanya seorang petugas yang ketika menjabat sebagai presiden nanti dirinya masih bisa disetir oleh penguasanya. “Jadi kata petugas partai ini kemudian menjadi kritik, menjadi kampanye lawan untuk menyerang Pak Ganjar karena petugas partai ini memberikan efek negatif ke Pak Ganjar,” jelasnya.

Sekadar informasi, survei ini dilakukan pada periode 6-13 November 2023, dengan metode survei tatap muka menggunakan kuesioner, melibatkan 1.200 responden di seluruh Indonesia. Adapun margin of error dari survei ini, yaitu 2,9 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen.

javanica media logo

Kontradiksi Times

Jurnal Demokasi

Vertikal News

Portal Hukum

Sport

Selebritis News

Agribisnis