Javanica Media Logo

KEPOLISIAN Melakukan Pelanggaran Berat atas Aturan Keselamatan dan Keamanan FIFA Dengan Menembakkan Gas Air Mata Di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik

0 Komentar: 10 Dilihat

Kericuhan sepakbola kembali terjadi setelah Gresik United sebagai tuan rumah kalah dari rivalnya Deltras FC dengan skor 1-2. Bentrokan itu berujung pada aparat kepolisian yang menembakkan gas air mata kepada para suporter. Dilansir tempo.co, bentrokan itu berujung pada aparat kepolisian yang dengan sengaja menembakkan gas air mata kepada para supporter bahkan ke jalan raya diluar stadion yang mengakibatkan gangguan pernafasan dan penglihatan para pengguna jalan yang tidak terlibat dalam ajang pertandingan sepakbola tersebut.

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya mengatakan, penembakkan itu merupakan tindakan berlebihan dan tidak proporsional yang dilakukan oleh aparat kepolisian.  Terhadap peristiwa penembakan tersebut, kami menilai Kepolisian diduga telah  menggunakan kekuatan secara berlebihan (excessive use of force),” kata Dimas melalui keterangan resminya, Senin 20 November 2023. Dimas mengatakan, selain melanggar Peraturan Kapolri, tindakan yang dilakukan Kepolisian juga merupakan pelanggaran atas Aturan Keselamatan dan Keamanan FIFA (FIFA Stadium Safety and Security Regulations) yang secara jelas telah melarang penggunaan gas air. “Kasus ini harus menjadi bahan evaluasi bersama baik dari pihak Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Polri, manajemen klub, hingga Suporter Sepak Bola,” kata Dimas.

Kepolisian mengaku sengaja menembakkan gas air mata di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik pada Minggu (19/11/2023) karena penonton beringas. “Alasannya karena eskalasi kericuhan, suporter makin beringas,” kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol. Dirmanto dikonfirmasi di Surabaya, Senin dini hari, dikutip dari Antara. Dirmanto mengakui bahwa ada Peraturan Kapolri (Perkapolri) Nomor 10/2022 yang melarang penggunaan gas air mata dalam pengamanan laga sepak bola. Namun, dirinya berdalih bahwa gas air mata dilarang jika digunakan di dalam stadion. “(Pelarangan) itu di dalam stadion,” ucapnya. Polda Jatim dan Polres Gresik kemudian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di area Stadion Gelora Joko Samudro.

Berdasarkan kabar yang diterima melalui awak media di lokasi kejadian, kerusuhan bermula saat suporter Gresik United ingin melakukan demo di depan pintu VIP menyuarakan kekecewaan atas kekalahan tim. Namun, demo tersebut dihalau oleh petugas keamanan. Polisi yang tak bisa membendung oknum suporter yang melakukan pelemparan batu pun merespons dengan menembakkan gas air mata. Akibatnya, 7 suporter terluka dan 10 polisi turut menjadi korban.  “Ada 10 personel dari petugas keamanan (Polri) mengalami luka dan sedang dirawat di RS Petro Kimia Gresik bersama tujuh warga sipil,” kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Dirmanto, dikutip dari Antara. Dirmanto menyebutkan para korban nantinya akan dilakukan pemeriksaan mendalam di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. “Untuk yang mengalami luka ringan, Polri akan memberikan layanan rawat jalan home visit oleh tim dokter RS Bhayangkara,” ujarnya. Sementara itu, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) telah melakukan kordinasi dengan PSSI Asosiasi Provinsi (asprov) Jawa Timur terkait kericuhan suporter dengan pihak keamanan di Gresik. “Kami sudah berkoordinasi dengan asprov Jawa Timur dan juga teman-teman suporter yang (berada) di Jawa timur untuk bersama-sama berkoordinasi dengan kawan-kawan di Gresik United dalam waktu dekat ini. Mungkin besok teman-teman itu akan berkoordinasi dengan Polda Jawa Timur supaya kondisi kondusif, artinya kami saling bekerja sama,” kata Komite Ad HOC PSSI Arya Sinulingga.

banner

Sekilas Tentang Gas Air Mata

Apa sebenarnya gas air mata? Dilansir halodoc Gas air mata adalah senyawa kimia yang dapat mengiritasi kulit, paru-paru, mata, dan tenggorokan. Biasanya gas ini digunakan untuk memecah demonstrasi ataupun kerusuhan. Namun, di balik tujuan keamanan dari ditembakkannya gas air mata, ada bahaya jangka panjang dari paparan gas air mata. Gas air mata mempunyai efek dapat membuat orang kehilangan kemampuannya melihat, menyebabkan iritasi pada mata, mulut, gangguan kesehatan tenggorokan, paru-paru, dan kulit.

Nama lain untuk jenis gas air mata termasuk fuli, semprotan merica, semprotan capsicum, dan agen anti huru-hara. Kekuatan gas air mata bervariasi dan paparan gas air mata yang lebih terkonsentrasi atau paparan yang lama dapat memperburuk bahayanya untuk kesehatan. Gas air mata pada awalnya dikembangkan sebagai senjata kimia untuk penggunaan militer. Namun sekarang dilarang dan lebih sering digunakan untuk membubarkan massa atau menghentikan demonstrasi.

Kontak dengan gas air mata menyebabkan iritasi pada sistem pernapasan, mata, dan kulit. Rasa sakit terjadi karena bahan kimia dalam gas air mata mengikat salah satu dari dua reseptor rasa sakit yang disebut TRPA1 dan TRPV1. TRPA1 adalah reseptor rasa sakit yang sama dengan minyak dalam mustard, wasabi, dan lobak untuk memberi mereka rasa yang kuat. Kandungan Chlorobenzylidenemalononitrile dan Dibenzoxazepine ternyata 10.000 kali lebih kuat daripada minyak yang ditemukan dalam sayuran ini.

Tingkat keparahan gejala dan dampaknya terhadap kesehatan pun akan bergantung pada lokasi penembakan gas air mata. Seperti di dalam atau di luar ruangan, jarak saat gas air mata dilepaskan, dan apakah orang yang terpapar memiliki masalah kesehatan sebelumnya. Selain berdampak pada kesehatan mata, bahaya lain dari gas air mata adalah gangguan pernapasan,iritasi pada hidung, tenggorokan,dan paru-paru. Orang dengan masalah pernapasan sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala parah seperti gagal napas, ketika terpapar gas air mata. Dalam kasus yang parah, paparan gas air mata konsentrasi tinggi atau paparan di ruang tertutup atau untuk jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kematian.

javanica media logo

Kontradiksi Times

Jurnal Demokasi

Vertikal News

Portal Hukum

Sport

Selebritis News

Agribisnis